Sebelum kita membahas budaya kost solo di masa kini ada baiknya kita menengok dulu budaya kost di masa lalu. Awal mula budaya kos yang dikenal masyarakat seperti apa sih? Kata kos adalah singkatan dari In de Kost (bhs belanda). Dahulu orang yang in de kost, menumpang tidur dan makan di rumah yang ditumpanginya.
Kebanyakan yang idekost adalah anak pribumi yang belajar/studi dan menumpang di rumah orang belanda dengan adanya perjanjian antara orang tua dengan pemilik rumah. Harapan orang tua pribumi melakukan ini agar anak yang 'dititipkan' mendapatkan ilmu dan pola pikir seperti orang eropa. Karena saat itu sebagian masyarakat beranggapan budaya eropa lebih terhormat. Dengan kata lain mereka ingin anaknya dapat mencapai strata sosial yang lebih tinggi. Menjadikan anak mereka terpandang dan terhormat di waktu mendatang.
Saat itu orang yang menumpang di rumah orang belanda bukan hanya menumpang makan dan tidur. Namun mereka juga harus beradaptasi dan mengikuti kebiasaan/ budaya orang belanda. Bahkan sampai ada yang dianggap sebagai anak angkat oleh tuan rumah.
Bukan hanya istilah in de kost saja yang telah berubah menjadi kost atau kos. Namun budaya hidup di rumah tumpangan juga sudah berubah. Menurut pengamatan maskosdi tentang budaya kost solo modern ini, menginap di rumah kost solo hanya sekedar urusan bisnis antara pemilik dan penyewa. Interaksi sosial kedua belah pihak semakin renggang dan cenderung berdiri sendiri. Saya kira hal ini tidak hanya terjadi di kota solo, tetapi juga di kota2 besar.
Di solo, kos kosan tumbuh subur di dekat UNS maupun kampus2 perguruan tinggi swasta. Pendatang yang mencari ilmu di kampus2 solo berasal dari berbagai daerah yang berbeda dengan latar belakang yang berbeda2 pula. Namun sayangnya hubungan masyarakat penghuni kost yang terbangun dengan lingkungan sangat minim. Dengan pemilik saja hampir tidak ada komunikasi kecuali saat jatuh tempo pembayaran sewa.
Tentunya tidak semua kost di solo memiliki budaya seperti ini, masih ada beberapa kost yang berusaha menciptakan hubungan kepedulian antar pemilik dengan penghuni kost. Biasanya pemilik yang memiliki rasa kekeluargaan, selalu menyapa setiap penghuni kos, bahkan ada yang sangat perhatian kala ada penyewa yang sakit. Budaya semacam ini biasanya bisa terbangun di kost yang berdekatan dengan rumah pemilik langsung. Tapi kayaknya sangat jarang deh kost di solo yang seperti ini.

